4 Jul 2017


Sebuah pertanyaan diajukan kepada seorang pakar tentang faktor apa saja yang memperngaruhi harga saham. Dengan satu kata sang pakar menjawab: sundry! Semua yang berada di bawah matahari mempengaruhi harga saham. Jawaban yang gampang dan terkesan serampangan itu terbukti kebenarannya secara empiris. Kita menyaksikan berbagai tragedi yang memberikan peluang untuk menangguk untung di bursa saham. Memancing laba dengan musibah? Kenapa tidak! Kata mereka.

Sebut misalnya perang, bencana alam, penyebaran virus, kejatuhan pesawat, bom teroris hingga pembunuhan presiden. Konon ketika flu burung mewabah di Indonesia, dan harga saham perusahaan unggas jatuh ke titik terendah, seorang investor kawakan membeli saham sebuah perusahaan di sektor ini pada harga Rp 250, dan menjualnya enam tahun kemudian pada harga Rp 31.500, merealisasikan keuntungan 12.500%

Setiap peristiwa pembunuhan presiden di Amerika Serikat selalu dikuti oleh penurunan tajam harga saham. Jatuhnya pesawat Valu Jet dalam penerbangan Atlanta – Miami tahun 1996 dikuti oleh turunnya indeks sub sektor penerbangan cutt off air fares sebesar 16% dan kenaikan indeks sub sektor penerbangan regular air fares dengan 12%, akibat migrasi penumpang dari penerbangan diskon ke penerbangan reguler. Saya tak ingat angkanya, tapi serangan fajar ke kantor salah satu partai politik di Jalan Diponegoro di jaman pemerintahan Soeharto dan ledakan bom di BEJ menyebabkan IHSG melorot tajam, walau dengan segera rebound beberapa hari kemudian.

Realita bursa saham memang bertolak belakang dengan tesis akademis tentang pasar modal yang efisien. Empiris membuktikan bahwa investor cenderung irasional dan pasar nyaris selalu overeact, baik terhadap berita bagus maupun berita buruk. Kasus paling gres di BEI adalah perbincangan panas menyangkut isu dukungan perusahaan publik kepada gerakan LGBT, yang sejatinya sudah basi dan terjadi di negara Paman Sam sana.

Bermula dari penawaran umum (IPO) salah satu anak perusahaan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), yaitu PT. MAP Boga Adiperkasa (MAPB) beberapa waktu lalu. MAPB merupakan pemegang hak waralaba Starbuck (NYSE SBUX). IPO MAPB itu  sendiri, menurut saya sudah memuat beberapa kontroversi. Pertama, MAPB hanya menawarkan 1.02% sahamnya kepada publik, padahal BEI menetapkan kebijakan perusahaan tercatat harus dimiliki publik minimal 7,5%. Kedua tanggal listing yang semula direncanakan 23 Juni, karena libur cuti bersama, diajukan menjadi tanggal 22 Juni.

Dari sudut harga, IPO MAPB mengguyur pembeli dengan capital gain yang “wah” dalam kurun waktu sangat pendek. Seperti beberapa IPO sebelumnya pada semester I tahun ini, saham MAPB yang ditawarkan pada harga Rp 1,680, pada hari pertama listing dibuka dengan Rp 2.525 dan ditutup pada harga Rp 3.150. Kenaikan hampir 100%! Namun kemudian, entah darimana sumbernya, di sosial media beredar copy berita pernyatan  CEO Starbuck, Howard Schultz tentang dukungannya terhadap gerakan LGBT, yang diucapkannya dalam RUPS perusahaan itu pada 21 Maret 2013

Berawal dari protes pemegang saham SBUX yang khawatir dukungan terhadap gerakan LGBT itu akan menurunkan kinerja perusahaan, Schultz menjawab: “If you feel respectfully that you can get a higher return than the 38% you got last year, it’s free country....you could sell your shares at Starbuck and buy shares in other companies”

At any measures, jawaban itu memang kurang ajar. Pertama, apakah pandangan pribadi seorang CEO otomatis menjadi corporate value perusahaan yang dimpimpinnya? Kedua, pengeluaran sebuah perseroan terbatas, walau untuk tujuan filantropis, menurut saya, tetap harus meminta persetujuan RUPS. Dana karitas Bill Gates yang masuk ke yayasannya, adalah uang pribadi, dan bukan uang Miscrosoft (NYSE MSFI), walaupun MSFI sendiri merupakan pendukung gerakan LGBT. Ketiga, pemegang saham yang berhak “mengusir” CEO dari perusahaan, dan bukan sebaliknya.

Berita basi itu pun kemudian menghangat kembali. Sebuah organisasi keagamaan langsung bereaksi mmenyebarkan himbauan boikot terhadap produk Starbuck di Indonesia. Sikap prematur para pemuka agama itu kemudian memancing reaksi lanjutan yang lebih ramai dari para pemegang saham yang sangat khawatir keuntungannya akan berkurang.

Saya ingin membuat catatan himbauan lewat kolom ini. Pertama himbauan kepada organisasi keagamaan, agar memeriksa terlebih dahulu setiap isu yang muncul, bila perlu meminta pendapat terlebih dahulu kepada ahli di bidang yang bersangkutaan. Akan lebih bijak apabila organisasi tersebut mengundang pimpinan MAPB untuk didengar. Sebagai pemegang hak waralaba tidak dengan sendirinya MAPB memiliki kultur korporasi yang sama dengan SBUX.

Kedua, peristiwa itu terjadi di Amerika Serikat lebih lima tahun lalu. Isu LGBT, khususnya pernikahan sejenis di Amerika Serikat, tidak hanya berurusan dengan “penyimpangan seksual” dan prinspi kebebasan individu yang dijamin konstitusi, tapi juga menyangkut aspek keuangan. Pasangan yang menikah di Amerika Serikat berhak atas berbagai tunjangan, seperti tunjangan kesehatan, pendidikan dll. Kaum LGBT itu, yang menikah sesama jenis dan kadang mengadopsi anak memperjuangkan pengakuan negara terhadap status pernikahan mereka agar mereka berhak mendapatkan tunjangan dari negara.

Sangat boleh jadi dukungan terhadap perjuangan untuk memperoleh akses finansial itulah yang mendorong banyak tokoh bisnis di sana membantu gerakan LGBT. Saya tidak tahu apakah barisan CEO perusahaan raksasa seperti Tim Cook (Apple), Jeff Bezos (Amazon), Steve Balmer (Microsoft), Llyod Blankfein (Goldman Sachs) dan sederet lainnya sekedar bersimpati terhadap tuntutan keadilan LGBT atau pelaku LGBT itu sendiri. Walahualam.

Ketiga, sebagai seorang muslim, saya faham bahwa “penyimpangan” semacam LGBT merupakan daerah terlarang. Namun sebagai warga negara saya harus menghormati pilihan setiap individu sepanjang tidak merugikan orang lain, apalagi khalayak. Sebagai pendidik, saya selalu berusaha berorientasi pada solusi dan tidak ingin terjebak pada lingkaran persoalan yang hanya akan memperburuk keadaan.

Keempat, karena itu saya mengambil jalan tengah. Mari kita hormati pilihan setiap individu. Kita bantu meluruskan “penyimpangan” itu dengan cara yang baik, kalau kita mampu. Tapi kita harus membedakan dengan jelas pilihan individu, yang merupakan domain pribadi, dan ajakan serta kampanye yang jelas jelas menjadi ranah publik.

Karena itu kepada rekan rekan investor dan trader di BEI, yang sangat khawatir akan kehilangan potensi keuntungan - (pada saat tulisan ini saya ketik, Senin 03 Juli 2017 pukul 10.04, harga MAPB turun 5% lebih) – saya menghimbau agar jangan bersikap reaktif yang memberi kesan berkampanye mendukung gerakan LGBT.  Declaration of Independence berbeda dengan Undang Undang Dasar, kultur Amerika Serikat berbeda dengan budaya bangsa. Mari kita hidup dengan menghargai perbedaan dan tegak di atas kedaulatan dan kehormatan masing masing......

Hasan Zein Mahmud
Investor saham, Instruktur pada LP3M INESTA


0 komentar:

Post a Comment

Mohon menulis komentar dengan bahasa yang baik tidak mengandung unsur sara, politik dan iklan.

Anda paling tertarik pada artikel apa ?

Flag Counter
Powered by Blogger.

.

.

.