17 Aug 2017


INVESTA  Kembali menyelenggarakan pelatihan dan temu investor di Bandung, bertempat di Hotel NEXA  Jl. WR Supratman no. 66-68, dengan materi sebagai berikut:

Jumat, 8 September 2017
Basic technical Analisis
Tape reading & Bandarmologi
LIVE TRADING

Minggu, 10 september 2017
Fundamental Analisis
Portofolio Recovery

Biaya :
8 September 2017
Rp. 700.000,00
10 September 2017
Rp.500.000,00
Sudah termasuk coffee break dan makan siang

Pembicara:
Hari Prabowo
Keneisha

Hubungi :
Bapak Hari Prabowo
WA +62 877-0008-5334




16 Aug 2017

Para Komunitas Investa, nasabah BNI SEKURITAS Semarang dan pembaca yang budiman,

Ketegangan politik antara Korut dan AS sementara ini mereda sehingga dalam 2 hari kemarin IHSG parkir di jalur hijau diposisi 5835,04 naik 0,58% dan investor asing net buy Rp.58,47 Milyar. Seperti ulasan saya Senin lalu bahwa penurunan IHSG akhir pekan memang dipicu adanya Resiko Politik dari semenanjung Korea sehingga merontokkan index Bursa Global dan Regional termasuk IHSG yang sempat tirin dibawah 5800.

Secara Fundamental Perekonomian  dari besaran angka2 yang tersaji negara kita cukup menawan dibanding negara lain sehingga sebenarnya pertumbuhan IHSG menuju 6000 akhir tahun 2017 ini cukup ada harapan. Namun demikian pasar keuangan terutama Saham di Bursa ini sangat sensitif dan tidak hanya bergantung dari fundamental Ekonomi, ada beberapa faktor lain yang bisa membuat IHSG naik dan turun dan bahkan sangat ekstrim jika terjadi suatu kondisi yang dipandang bisa mempengaruhi kondisi pasar, termasuk faktor Politik dan Keamanan tadi.

Lantas apakah dalam pekan ini IHSG akan melaju naik lagi? saya berpendapat jika situasi politi dan keamanan kondusif khususnya antara Korut dan AS maka IHSG akan sejalan dengan kondisi perekonomian kembali dimana prediksi target 5900 akhir pekan ini mungkin saja bisa tercapai.
Mengingat laju inflasi, nilai mata uang, cadangan devisa kita cukup baik maka beberapa harga saham juga akan menyesuaikan fundamental masing2 kembali, artinya didasarkan pada kinerja dan prospek perusahaan.

Selain itu Nota Keuangan RAPBN th.2018 rencananya akan disampaikan Presiden hari ini dan pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4% lebih tinggi dari asumsi th 2017 yang 5,2% serta besaran angka2 ekonomi yang cukup positif Dengan demikian Pemerintah optimis kondisi ekonomi akan lebih baik tah depan sehingga kalau kita percaya dengan asumsi2 ekonomi yang disampaikan Pemerintah maka Pasar Modal akan tumbuh juga mestinya.

Kita tau bahwa pergerakkan harga saham itu lebih cepat dalam merespon setiap informasi yang ada sehingga tentu pidato Presiden Jokowi nanti akan didengar dan dianalisa oleh para pelaku pasar termasuk para analis. Namun secara umum saya menilai dengan pertumbuhan 5,4% tersebut cukup positif, tinggal kita perhatikan sektor2 apa yang akan menjadi prioritas Pemerintah.

Mari kita sebagai bagian dari pelaku pasar mencermati pidato Presiden Jokowi nanti agar bisa menentukan investasi / trading saham2 sektor apa yang layak menjadi pundi2 Portofolio kita masing2. Saya  masih akan menambah posisi portonya disektor pertambangan dan jasa keuangan dalam jangka pendek ini.

Namun untuk trading harian saya sangat relatif memilih saham yang penting saham2 yang punya volatilitas tinggi dengan frekuensi dan volume yang memadai serta tentu melihat secara Teknikal maupun jurus "Bandarmologi" dengan memperhatikan BID, ASK dan siapa2 Broker "pemainnya".
Sementara ini menu trading saya pekan ini masih di saham2 ADRO, INDY, BKSL, SMGR, MEDC, KBLI, 
 
Strategi investasi portofolio saat ini 70% trading pendek dan 30% untuk investasi jangka menengah / panjang dengan mengakumulasi saham2 yang punya Fundamental dan Prospek terbaik .
 
Sebagai investor / traders mari kita cermati setiap ada informasi penting termasuk pidato Presdien dalam mengantar RAPBN 2018 nanti sekaligus melatih daya analisis kita.
 
Semoga kita mendapatkan yang terbaik, dan semoga bermanfaat.

Bagi pembaca yang ingin bergabung di grup KOMUNITAS INVESTA silahkan daftar melalui WA 087700085334 dengan menyebut Nama, Umur dan Kota Domisili.

Salam,
Hari Prabowo (Investa)
WA.087700085334
email; investa.p3m@gmail.com

14 Aug 2017

Para Komunitas Investa, nasabah BNI SEKURITAS Semarang dan pembaca yang budiman,

Akhir pekan kemarin 12 Agustus 2017 IHSG seharian dalam zone merah alias mengalami penurunan, dan semakin sore semakin dalam turunnya minus 59,80.poin dan ditutup pada level 5766,13 (1,03%). Investor asing net sell Rp.1,15 Triliun suatu jumlah yang cukup signifikan mengingat transaksi kemarin Rp.6,2 triliun dan investor asing tersebut banyak melepas saham2 sektor keuangan. Mayoritas sektor saham yang ada di Bursa serempak melemah dipimpin sektor aneka industri turun 2%.

Penurunan IHSG tersebut akibat panasnya situasi di semenanjung Korea yang terjadi saling ancam antara Presidem Korea Utara dengan AS yang akan saling serang. Inilah yang sering disebut RESIKO POLITIK (Political Risk).
Dalam investasi memang ada beberapa resiko yang ada seperti resiko Pasar, resiko Likuiditas, resiko Industri maka Resiko Politik ini merupakan resiko yang diakibatkan oleh situasi yang pengaruhi oleh kebijakan politik suatu Pemerintahan / Negara.
 
Hampir rata2 Bursa Global dan regional juga mendahului situasi yang tertekan yang rata2 lebih 1,5% sehingga mempengaruhi IHSG  karena pada dasarnya Bursa ini sangat sensitif dan mudah"menular" . Sehingga tidak ada salahnya kalau kita sering melihat kondisi Bursa yang mulai DOW, Eropa dan Regional di Asia seperti Nikkei, Hanseng, Shanghai, KSI sebagai pembanding.
 
Bagaimana kondisi pekan ini ? tentu masih bergantung situasi politik di semenanjung Korea apakah semakin memanas atau mulai dingin kembali. Sehingga kenapa saya pribadi sementara ini lbh senang trading pendek dulu itu karena melihat situasi yang saat ini cepat berubah sehingga lebih cepat menyesuaikan strategi tradingnya.
 
Bagi yang ingin terus trading pendek sebaiknya tidak full capasity sebagian harus dalam bentuk Cash agar bisa melakukan trading dengan baik dengan menjaga target dengan disiplin.
 
Saham2 yang lentur naik dan turunnya seperti INCO, ADRO, INDY, MEDC, SMGR, BKSL, AALI bisa sebagai alternatif trading pendek sambil mengamati situasi Politik dan harga Komoditas. Jangan lupa perhatikan pula perilaku investor asing terhadap saham2 tertentu.
 
Semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat bagi pembaca.

Bagi pembaca yang ingin bergabung di grup KOMUNITAS INVESTA silahkan daftar melalui WA 087700085334 dengan menyebut Nama, Umur dan Kota Domisili.

Salam,
Hari Prabowo (Investa)
WA.087700085334
email; investa.p3m@gmail.com

10 Aug 2017

Para Komunitas Investa, nasabah BNI SEKURITAS Semarang dan pembaca yang budiman,
 
Beberapa kali saya  menerima pertanyaan dari teman2 anggota Komunitas Investa mengenai penturunan harga saham GGRM & HMSP dalam satu bulan terakhir ini. Padahal kedua saham ini termasuk saham kategori Blue Chip dan punya bobot tinggi terhadap perhitungan IHSG karena kapitalisasinya yang besar.
Kebanyakan  Manajer Investasi juga memasukkan kedua saham tersebut dalam racikan portofolionya terutama untuk jenis Reksa dana Saham karena merupakan saham pencetak gain dan harganya selalu tumbuh dari tahun ketahun

Sekedar sharing pendapat, bahwa sebagai investor selayaknya mesti lebih jeli dengan melihat saham dari berbagai aspek termasuk yang paling penting bagi saya adalah "Fundamental dan Prospek". Apapun perusahaannya apakah itu Blue Chip, Lapis Dua atau Lapis Tiga mesti kita lihat kedua aspek tersebut.

Fundamental kita bisa melihat antara lain dari Laporan Keuangan karena Laporan Keuangan mencerminkan kinerja " masa lalu " sedangkan PROSPEK adalah masa yang akan datang, sehingga keduanya harus kita cermati, analisa dan baru kita simpulkan sebagai dasar pengambil keputusan Beli atau Jual,

Dari Laporan Keuangan GGRM saya melihat PENJUALAN meningkat  8,8% untuk periode 30 Juni 2017 dibadingkan 30 Juni 2016 adapun LABA juga meningkat  8,9% sehingga searah antara penjualan dan laba yang dicapai.
Namun rupanya Laba yang dicapai selama Kuartal ke dua 2017 ini lebih kecil dibandingkan jumlah Laba yang dihasilkan selama kuartal pertamanya.

Sedangkan dari Berita terakhir yang juga penting diperhatikan adalah PT.Gudang Garam, Tbk ini baru melakukan kesepakatan PENJUALAN atas anak Perusahaannya, karena penjualan ini 100% berarti GGRM sudah tidak punya lagi anak usaha perusahaan (PT.KDM dn PT.SMN).
Nah, kalau saja kedua anak usaha GGRM tersebut selama ini banyak memberikan kontribusi Laba terhadap GGRM maka kedepan kemungkinan Laba GGRM akan berkurang..!! meskipun dari sisi Kas akan bertambah dari hasil penjualan kedua anak usaha tersebut dan bahkan akan muncul LABA LAIN2.

Adapun Laporan Keuangan HMSP semester pertama menunjukkan PENJUALAN mengalami Penurunan 1,5% sedangkan LABA  juga turun 1,6% dibandingkan periode 30 Juni 2016 yang lalu, sedangkan pencapaian Laba kuartal kedua ini juga lebih rendah dibandingkan kuartal pertama yh.2017.

Dari sisi harga memang GGRM dan HMSP megalami penurunan yang cukup signifikan. Lihat saja GGRM selama sebulan terakhir turun 15,22% YTD masih tumbuh 3,76% (dari awal tahun 2017). Sedangkan HMSP selama sebulan terakhir turun 10,24% dan YTD turun 10,70% !!.

Bagaimana PROSPEK kedua saham rokok tersebut? saya melihatnya bahwa industri rokok sepertinya memang sulit mencapai masa keemasan seperti masa lalu. Lihat saja dari sisi pemakaian konsumen sekarang banyak dibatasi ruang dan tempatnya tidak boleh bebas seperti dulu. Demikian pula Promosiniya juga tidak bisa bebas seperti industri yang lain, bahkan dibungkus rokoknyapun dengan jelas diperingati ! ini artinya menjadi serba terbatas meskipun tidak dilarang.

Bukan berarti tidak ada PROSPEK kedua saham tersebut namun mungkin dari sisi harga kalau bisa mendapatkan harga yang relatif murah silahkan saja dibeli namun rasanya tidak bisa juga secara spektakuler naik mencapai harga tertingginya dalam waktu dekat.

Moga2 "urun rembug" saya bisa menjadi bacaan dan selanjutnya terseras anda...hehee..

Bagi pembaca yang ingin bergabung di grup KOMUNITAS INVESTA silahkan daftar melalui WA 087700085334 dengan menyebut Nama, Umur dan Kota Domisili.

Salam,
Hari Prabowo (Investa)
WA.087700085334
email; investa.p3m@gmail.com

7 Aug 2017



Berapa banyak grup saham yang anda miliki ? satu, dua, atau mungkin lebih dari sepuluh ?
Akhir-akhir ini bertebaran komunitas saham baik melalui aplikasi telegram ataupun melalui aplikasi WhatsApp, untuk aplikasi WhatsApp member grup yang bisa dibuat adalah sekitar dua ratusan mamber, sedangkan melalui grup telegram bisa ribuan member, bahkan mencapai sepuluh ribu member.

Member Aplikasi tersebut ada yang gratis atau berbayar, tetapi kalau penulis amati grup yang pada mulanya gratis, berbaik hati dengan 'image' dermawan, kemudian akhirnyapun menjadi berbayar, bermanfaatkah grup komunitas tersebut ? mari kita membahasnya.

Pada salah satu sebuah member yang berbayar, yang cukup masif melakukan iklan grupnya di salah satu situs berita saham di internet, penulis mengamati beberapa kali isi dari stock rekomendasinya, isinya kurang lebih begini, telah direkomendasikan pada tanggal sekian, pada hari ini return saham tersebut telah naik +25%, hold atau relasikasikan profit anda, kelihatannya cukup rasional, tapi setalah penulis pelajari stock-pick yang diberikan jumlahnya puluhan saham, bahkan mungkin mencapai ratusan saham, karena terus menerus disampaikan pada jam-jam tertentu, mestinya anda harusnya berfikir ini adalah azas probalilitas, dengan stockpick yang banyak tentu saja kemungkinan adanya saham yang naik menjadi lebih besar, secara rasional pola ini tidak mungkin diterapkan dalam portofolio anda, pertanyaanya nanti berapa nanti dana yang dibutuhkan untuk membeli begitu banyak jenis saham? bagaimana cara kita memaintain saham tersebut, kalau 5 saja sudah repot?

Pertanyaan mendasar, lebih baik anda mempunyai 10 saham dengan return 2% masing masing saham, atau anda hanya mempunyai 2 saham dengan masing masing return 2% ?, orang yang berfikir rasional tentunya akan memilih pilihan kedua, karena tidak perlu repot mengurusnya, bukankah begitu?

Pertanyaan ketiga, bila seseorang sudah hebat trading saham, buat apa ia membuat member sampai beriklan di situs terkenal, dan sampai merekrut sejumlah karyawan ? tinggal trading saja toh? logikanya sekarang..... jangan-jangan tutor tersebut sudah tidak trading lagi, dan sekarang  penghasilannya hanya menjual rekomendasi saham, karena dari fee member yang  jumlahnya ribuan  sudah lebih dari cukup dan pasti (fix income) , buat apa lagi trading saham dengan berbagai resiko ?

Bila seorang trader mendapatkan informasi sejatinya tidak boleh disebar kemana mana, apalagi saham saham 2nd linear atau 3rd liniar yang berbau gorengan, karena semakin banyak investor yang membeli atau menjual saham tersebut akan mempengaruhi investasi trader tersebut, penulis sendiripun di grup investa hanya stay di satu grup, karena banyak grup akan mendistorsi hasil trading penulis, penulis sudah membuktikannya pada saham saham tertentu seperti beberapa kasus MLPL, saat penulis masih hold tenyata di grup sudah profit taking akibatnya harga turun karena terjadi panic selling, pada grup komunitaspun penulis tidak vulgar  memberikan target beli dan jual di harga tertentu, tetapi hanya memberikan kode kode tertentu berupa gambar teknikal, atau komentar tertentu.

Beberapa komunitas saham baik melalui telegram ataupun whatsApp pada akhirnya menawarkan jasa pelatihan, dengan sederet titel tutornya seperti Teknikal analis bersetifikat , atau telah menulis sejumlah buku yang dipajang di toko buku terkenal, agar orang yakin dan percaya,  menurut hemat penulis apalah artinya sederet titel, dan banyaknya buku yang ditulis, bila tutornya tidak berpengalaman trading di pasar saham, jenis sertifikat yang riil yang mestinya anda lihat dan buktikan adalah portofolio tutor tersebut, bukannya berapa banyak jenis sertifikat yang ia raih, karena anda kan ingin mendulang ilmu berinvestasi di lapanagan saham secara riil, bukan hanya ilmu yang ada dalam textbook belaka.

Sangat banyak terjadi di sekitar kita, seorang murid yang rangking satu di sekolahnya, setelah dia masuk ke sektor riil tidak berhasil dalam hidupnya, kebalikannya banyak yang berhasil di sektor rill namun sekolahnya tidak pintar, karena yang dipakai di dunia rill adalah EQ bukan hanya  IQ, perumpamaan ini berlaku juga di dunia saham.

Grup grup yang bertebaran di telegram dengan jumlah member yang banyak juga menjadikan over-flood  informasi, sangat sulit juga kita membaca opini membernya satu persatu, over-flood informasi lebih banyak sisi buruknya daripada baiknya, over-flood  akan menyebabkan anda goyah pada tujuan semula sehingga  melupakan tujuan awal, bergunakah semua member tersebut ? lebih bijak anda menseleksi grup grup saham yang berkualitas saja, dan menghapus grup grup saham yang tidak berkulitas, sisi baiknya smartphone anda akan lebih ringan menerima pesan,  bahkan dalam sebuah grup telegram ada yang membahas khusus saham BEKS saja,...Luar Biasa !!! sunggu tidak masuk akal sehat, karena sampai kini harga saham BEKS tidak berubah, tetap bercokol di klub gocap, kemudian apa saja aktifitas komunitas tersebut ?

Bijaksanalah menyaring informasi yang masuk, sehingga berguna bagi investasi saham anda, hasil investasi dalam portofolio anda  dipengaruhi  lingkungan  komunitas aplikasi online yang ada  di smartphone anda, baik WhatsApp ataupun telegram, karena lingkungan sangat mempengaruhi hasil investasi anda,  grup yang tidak berkulitas akan menyebabkan portofolio anda merah dan tak kunjung membaik, grup yang baik akan menyebabkan portofolio anda selalu menghijau, sehijau hamparan padi padi di sawah.


About writer
My name is Keneisha,  I am a stock market practitioner having experienced investing in the stock market since 2005





Para pembaca yang budiman,
 
Sambil menunggu Boarding Pesawat di Bandara Soeta  jam 10.50 saya membuka Laptop dan seperti biasa memonitor bebera harga saham serta melakukan trading bila ada saham dan harga yang cocok dengan prediksi saya.
Seseorang yang duduk disebelah saya dan memperhatikan "kegiatan" saya tiba2 bertanya  "Bapak sedang melihat apa kok serius sekali"? saya pun menjawab bahwa saya sedang "bekerja" memperdagangkan berbagai Perusahaan besar.
Rupanya orang tersebut sangat tertarik dan minta dijelaskan bagaimana saya bisa bekerja berdagang perusahaan sekalipun sedang di Bandara dengan hanya menggunakan Laptop?

Menjadi investor saham memang suatu pekerjaan yang sangat efisien dari peralatan dan tempat karena tidak membutuhkan peralatan yang banyak, tidak butuh pegawai serta tidak butuh bangunan atau tempat khusus untuk bekerja, dimanapun kita bisa bekerja dengan sebuah laptop. Berapa modal trading / berdagang saham? sangat relatif kita bisa dengan modal Rp.5 juta sampai berapapun jumlah modal kita.

Soal mendapatkan hasil atau rugi itu wajar seperti berdagang komoditas atau barang2 lainnya dimana kita bisa untung atau rugi dalam berdagang. Semakin kita menekuni pekerjaan maka kita semakin bisa memperkecil tingkat resiko kerugian dan sebaliknya tau bagaimana kita mencari cara untuk bisa mendapatkan hasil / keuntungan.

Disamping efisien trading saham adalah pekerjaan yang legal dan halal sehingga kita bisa bekerja dengan tenang serta administrasi yang rapi karena semua sudah ada dalam sistem komputer sehingga kita bisa mengontrol modal dan kekayaan kita kapan saja. Kitapun bekerja tanpa diatur oleh Boss atau pimpinan yang harus mengatur ini dan itu serta terikat birokrasi perkantoran, sehingga kita bisa mulai bekerja dan selesai kapanpun kita mau.

Bagaimana dengan hasilnya? bicara tentang hasil barangkali tidak ada pekerjaan manapun yang hasilnya bisa spektakuler seperti berdagang saham karena kita bisa saja mendapatkan hasil sampai dengan 35% sehari !! dan ini bukan gambling atau judi. Bukan sesuatu yang aneh karena hal tersebut memang bisa terjadi. Hanya saja lazim kalau kita mesti belajar dan mempunyai pengetahuan tentang pekerjaan yang kita lakukan sehingga melakukan pekerjaan dengan lancar dan sesuai harapan yaitu mendapatkan hasil yang memadai dan memproteksi resiko sekecil mungkin.

Dengan sedikit penjelasan tersebut orang yang duduk disebelah saya yang ternyata seorang dokter spesialis menyatakan sangat tertarik karena pekerjaan ini bisa dilakukan ketika mengisi waktu dari bagian pekerjaan utamanya.
 
Jadi banggalah anda yang sudah mempunyai pekerjaan baru sebagai investor saham, bahkan selain menjadi pekerjaan sampingan trading saham juga bisa menjadi pekerjaan utama. Kita tidak perlu heran, lihat saja para Manajer Investasi itupun juga melakukan trading saham salah satunya dan mereka dipercaya mengelolan modal pihak lain. Maka marilah kita menjadi Manajer Investasi untuk megelola modal kita masing2.
 
Beberapa teman yang menjadikan trading saham menjadi pekerjaan utama ternyata hasilnya tidak kalah dengan pekerjaan yang lain, "Trading for Living" katanya santai dan bangga.
 
Konsep investasi saham untul jangka panjang rupanya tidak bersifat mutlak karena dengan pengetahuan dan strategi yang baik kita bisa melakukan investasi jangka pendek untuk mendapatkan hasil yang memadai pula. 
Bagi yang tertarik menambah pengetahuan tentang investasi saham ini bisa bergabung ke Grup Komunitas Investa dengan mendaftar melalui WA kami dengan menyebut Nama, Umur dan Kota Domisili.
 
Salam,
Hari Prabowo (Investa)
WA.087700085334
email; investa.p3m@gmail.com

6 Aug 2017


THE DINFERENCE between Value Investors and the ordinary traders
(NOT the professional traders)

1. A Value Investors just happy if the stock price drops.  When the share price then dropped to 900 (down 10%), a trader will see it as an MISTAKE and must immediately cut loss . While a Value investors will see it as an OPPORTUNITY and make a purchase more provided there are no fundamental problems with the company.

2. A value investor does not have to always be in front of the laptop.  every second is momentum for a trader. However, for a value investor, the stock price will go up by itself during the company's performance also improved.

3. A value investor buys a company, whereas a trader buys a stock price. By being a value investor, I do not worry if the stock price drops. But I would be worried if the company that I hold shares decreased performance.

4. And most importantly, being a Value Investor is much more relaxed and far from stress.

Professional traders can do better than that, there are a space more powerfull between value investor and the ordinary traders, you can do it  better,  are you ?

Trader which can do it more better than that called wealthy investor.

Ellen may call it a rich investor but I do not agree with that, there are a number of differences between the terms rich investor and wealthy investor.

Wealthy has a deeper rich meaning. In addition to rich in terms of material, people who are in the wealthy category also has a wealth and establishment of mindset. The vision and mission of these people are always one step ahead and wider than the other rich. Innovation and change are indicators of a person belonging to the wealthy category.

Being wealthy means making meaningful changes that have not happened around you yet. You must be able to be useful to others and make other people's lives meaningful. The rich status you have must also have meaning for the people around.

Rich can get a person in an instant. Suppose a child becomes rich because of the inheritance of his parents who is a conglomerate. Or it could be a builder gets rich suddenly when winning the lottery hundreds of millions. In contrast to rich, a wealthy must go through a long process because of the maturity and establishment of the mindset can not be achieved instantly.

here are several character  for wealthy investor:

1. They are very good savers

2. They don't put everything in the stock markets.

3. They develop and stick with a detailed plan that will help them reach their unique goals.

4. They work with financial professionals.

Where Does the Wealthy Investor Place Their Money?


 Wealth investor targeting

1.How can I get the highest return with the least amount of risk?
2.How can I protect profits and principal?
3.What can I do to GUARANTEE my investment portfolio will be worth more in the future?

This article is  Quoted and processed from various sources

About writer
My name is Keneisha,  I am a stock market practitioner having experienced investing in the stock market since 2005

26 Jul 2017

Pembaca yang budiman,

Setelah melalui masa koreksi yang cukup panjang apakah saham sektor pertambangan sudah mulai layak untuk investasi jangka menengah atau bagus untuk trading pendek saja?? Saya perhatikan beberapa harga komoditas seperti Nikel, Minyak, timah, dan batubara ada sinyal2 untuk bergerak naik.
Pergerakkan harga komoditas dunia ini mestinya akan berpengaruh juga terhadap harga saham emiten yang mempunyai usaha pokok sesuai komoditasnya.

Di Bursa siklus pergerakan setiap sektor saham adalah sesuatu yang wajar, dan kita sebagai invesor / trader bisa menyesuaikan sektor mana yang layak untuk target trading / investasi. Bursa memang sangat sensitif sehingga bagi pelaku pasar memang dituntut untuk jadi insan yang senang membaca dan menganalisa. Setiap informasi yang penting dengan cepat direspon oleh bursa, mulai harga komoditas, bursa global, bahkan kondisi politik dan keamanan.

Sektor pertambangan setidaknya dalam 3 tahun terakhir memang harganya banyak mengalami tekanan mulai minyak, perak, batubara, gas alam, timah, CPO dll. Sehingga kalau kita perbandingkan dengan harga saham2 nya di Bursa itu saling mempengaruhi misalnya saham ELSA, TINS, INCO, PTBA, AALI MEDC. ANTM harga 3 tahun yang lalu jauh lebih tinggi dibanding saat ini sejalan penurunan harga komoditasnya.

Dua pekan terakhir saya melihat ada geliat harga2 komoditas tersebut ada kecenderungan naik, apakah ini sifatnya hanya sejenak atau menjadi awal kenaikan kembali. Maklum harga komoditas dunia ini juga sangat banyak dipengaruhi berbagai faktor sehingga sulit untuk memprediksinya setidaknya untuk jangka menengah.

Memang di bursa ini ada unsur spekulasi yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam transaksi perdagangan sahamnya, sehingga kita yang harus bisa membuat manajemen portofolio masing2 menjadi lebih baik.

Saya pribadi mulai tertarik mecermati dan bahkan sudah mulai koleksi saham2 pertambangan seperti INCO, MEDC, ELSA, INDY yang sering saya sebut 4 sekawan sejak 2 pekan lalu. Semalam harga Nikel sudah mencapai kisaran $10.000  Minyak $48,3 dan DJ.Coal $41,7 sehingga kemungkinan untuk saham2 tersebut pnya potensi kembali menguat.

Target saya INCO menuju kisaran 2400 sd 2500, MEDC  2650 sd 2800 ELSA 280 sd 300 dan INDY 900 sd 1000 dua pekan kedepan. Disclaimer.on tentunya namun semua saya dasarkan analisa FA, Prospek, Bandarmologi dan TA seuai pemahaman saya.

Buat pembaca yang ingin bergabung di grup Komonitas Investa silahkan invite ke no WA.087700085334 dengan syarat dan ketentuan yang ada. Kami telah menyediakan grup Komunitas Investa III untuk yang baru.

Jadilah investor / trader yang cerdas, jeli, sabar dan disiplin.

Salam,

Hari Prabowo ( INVESTA )
WA.087700085334

24 Jul 2017



“Yang harus diadili itu kecurangan, jangan adili selera pasar” (hzm)

Boleh jadi Bursa Efek Indonesia (BEI) memang lagi “ketiban sial”. Selang beberapa hari setelah DGIK (PT. Nusa Konstruksi Injiniring Tbk) ditetapkan sebagai tersangka korupsi, kini giliran AISA (PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk) dinyatakan pemerintah mengoplos beras subsidi menjadi beras premium, melakukan miss-selling, mencurangi konsumen dengan menjual produk dengan kualitas lebih rendah dari yang tertera pada label kemasan.

Dalam kedua peristiwa itu, yang paling dirugikan adalah para pemegang saham ritel. Saham DGIK turun 31% sebelum dihentikan perdagangannya oleh BEI, pada hari Kamis minggu lalu. Saham AISA anjlok 25% pada hari Jum’at 21 Juli 2017, setelah pada malam sebelumnya Kapolri dan Mentan datang ke (baca: menggerebek) Gudang PT. Indo Beras Utama (IBU), anak perusahaan AISA, di Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat, menyegel gudang. Esok harinya Kemendag membekukan aktivitas IBU. Saham tersebut, akan turun lebih tajam seandainya tidak ada tanggul pembatas harga yang ditetapkan oleh BEI.

Bagaimana hukum dan keadilan akan memberikan perlindungan kepada pemegang saham ritel yang tidak berdosa, yang menjadi korban, atau dikorbankan “permainan politik tingkat tinggi”  ini, nanti kita simak dan saksikan bersama. Celetukan ini, seperti biasanya, hanya ingin mengajak masyarakat berakal sehat.

Dua peristiwa itu memuat banyak kontroversi dan menyulut polemik ramai dan panjang. Beras, di Indonesia, memang merupakan produk yang paling pelik dan paling rumit tata niaganya. Pertama, beras bukan sekedar produk ekonomis, dia juga produk sosial dan produk politik. Beras menyangkut hajat hidup orang banyak, bahkan tolok ukur kualitas hidup kaum marjinal, berperan penting dalam kalkulasi angka inflasi, komoditas politik yang bisa menentukan tegak runtuhnya sebuah kekuasaan.

Kedua, beras dihadapkan pada dilema yang pekat. Kalau harganya “terlalu” murah, maka sekian juta petani akan terpuruk dalam kemiskinan turun temurun. Kalau harganya terlalu mahal, sekian juta kaum marjinal tak mampu membeli beras. Pemerintah menginginkan harganya stabil, para pedagang perantara melihat potensi marjin keuntungan yang sangat lukratif dalam tata niaga. Karena berbagai kendala yang berlapis, lingkaran setan ini tak mampu ditembus.

Ketiga, tata niaga yang tidak tertata. Statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa petani memperoleh rata-rata 73% dari harga yang dibayar konsumen akhir. Di Indonesia, petani padi hanya memperoleh kurang dari 40% dari harga yang dibayar konsumen akhir. Akibatnya ya itu tadi, petani tetap tinggal gurem, rakyat marjinal makan nasi aking, para pedagang perantara berkipas kipas dengan marjin keuntungan yang “wah”. Kalau pemerintah mau stabilitas, tugaskan Bulog masuk secara total dalam tata-niaga beras, mulai dari membeli gabah petani sampai distribusi ke konsumen rumah tangga. Targetnya jelas: intermediaries cost ditekan serendah rendahnya, sehingga petani mendapat marjin hasil yang  lebih tinggi dan masyarakat marjinal dapat membeli beras dengan harga yang lebih terjangkau. Bulog tidak mau dan tidak mampu. Pemerintah tidak memiliki buffer funds yang cukup untuk misi semacam itu.

Kasus AISA, menurut hemat saya, merupakan produk dari kerumitan persoalan beras. Kekacauan persepsi dari berbagai pihak tentang bagaimana tata niaga beras hendak diatur. Saya hanya memiliki informasi dari media massa tentang peristiwa itu.   Dan saya ingin membuat beberapa catatan berdasar infoormasi yang terbatas itu.

Tuduhan  pertama yang terlontar kepada AISA adalah membeli beras subsidi dengan harga murah, untuk kemudian dikemas dalam kemasan yang diberi label sebagai beras premium dan dijual dengan harga tinggi. Pertanyaan spontan yang muncul di kepala saya adalah: Mengapa beras subsidi yang ditujukan untuk orang orang yang berhak menerima subsidi bisa dijual ke perusahaan? Siapa penjual dan pengedarnya? Mengambil analogi narkotika, bukankah pengedar melakukan pelanggaran yang lebih besar ketimbang pemakai? Mengapa penjual / pengedar itu tidak ditangkap?

Saya sdudah membaca tanggapan resmi yang dikeluarkan oleh manajemen AISA dalam suratnya kepada BEI tanggal 21 Juli 2017,  yang menyatakan bahwa dalam memproduksi beras berlabel, IBU membeli gabah dari petani dan beras dari mitra penggilingan lokal dan sama sekali tidak membeli atau menggunakan beras subsidi yang ditujukan untuk program Beras Sejahtera BULOG atau bentuk bantuan bencana lainnya

Pertanyaan kedua: Apa betul beras itu sekedar ganti kemasan, atau mengalami proses lebih lanjut, semisal penyortiran, pencampuran, pemolesan, pemutihan, pemberian pewangi, dll? Upaya meningkatkan nilai adalah esensi kegiatan produksi. Proses semacam itu membutuhkan investasi dan biaya. Untuk menilai apakah IBU  & AISA mengambil marjin keuntungan terlalu tinggi memerlukan kajian terhadap biaya yang dikeluarkan dalam proses penambahan nilai tersebut. Dari segi pisik saja (tanpa mempersoalkan komposisi kimiawi) beras yang bagus itu tentu  rasanya enak, pulen, putih tanpa polesan kimia, berbau harum, tidak patah apalagi hancur dan tidak mudah basi. Berapa investasi dan biaya yang dikeluarkan untuk proses demikian itu?

Yang harus menjadi juri dalam menentukan apakah suatu produk yang diperdagangkan kemahalan atau kemurahan adalah konsumen!. Kapolri dan Mentan tidak berhak mewakili konsumen untuk menyatakan beras premium itu kemahalan. Menyangkut urusan selera, apalagi indera pengecap, tidak mungkin ada kecurangan yang bertahan sekian lama. Kalau kita masuk ke restoran lalu dihidangkan nasi yang tidak enak, maka tidak akan ada kunjungan kedua ke restoran tersebut. Apalagi beras Ayam Jago dan Maknyus, Juni lalu meraih penghargaan superbrand. Penghargaan seperti itu, tentu sangat mempertimbangkan opini konsumen, kecuali penghargaan itu cuma sekedar “ecek-ecek”.

Beras premium itu beredar terbatas di kalangan “konsumen premium” pula. Oleh karena itu pernyataan bahwa pengoplosan beras dimotivasi oleh keinginan melemahkan ketahanan bangsa, selain terlalu jauh, juga sangat berbahaya.

Kabareskrim Polri kemudian melontarkan dua tuduhan. Pertama IBU membeli gabah dari petani pada harga lebih mahal dari HPP Rp 3.700, per kg, dan itu merupakan pelanggaran (Kompas.com 21 Juli 2017 pukul 18.13). Statement ini membuat persoalan menjadi semakin blur dan akal sehat menjadi sakit. Tuduhan awal, IBU membeli beras subsidi entah dari siapa, lalu sekarang tuduhan membeli gabah terlalu mahal. Masa sih polisi tidak tahu perbedaan antara beras dan gabah? Lalu HPP itu tujuannya agar petani mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Kalau ada pengusaha yang bersedia membeli pada harga yang lebih tinggi dari HPP, seharusnya pemerintah berterima kasih. Kalau banyak pengusaha seperti IBU, maka ketentuan HPP tidak lagi diperlukan.

Tuduhan lain lagi terkait perbedaan komposisi kandungan protein, lemak dan kimiawi lain dalam “beras premium” dengan yang tertera pada karung kemasan. Persoalan mudah yang  bisa diselesaikan dengan menunjuk assayer independen untuk megujinya. Kalau memang terbukti terjadi perbedaan yang signifikan, manajemen IBU sangat pantas menerima ganjaran, tanpa perlu menghentikan aktivitas perusahaan. Menghukum pelanggaran tidak harus dilakukan dengan mengerdilkan aktivitas ekonomi.


Kita tak akan membuat jernih air dengan cara mengaduk aduknya

Hasan Zein Mahmud, Instruktur pada LP3M INVESTA



Para anggota grup Investa, para nasabah BNI Securities Semarang dan para pembaca yang budiman,

Belum usai "tergerus" masalah saham DGIK yg didakwa Korupsi kini Investor "tersapu" masalah saham AISA yang pekan kemarin anak usahanya di dakwa melakukan pelanggaran soal pembelian dan oplosan BERAS ?? Dimana kedua harga saham kedua emiten tersebut akhirnya jatuh parah karena investor panik dengan kasus yang menimpa emitennya.

Inilah resiko investor yang dirasakan saat ini, investor harus siap menanggung segala akibat yang menimpa emiten sekalipun investor hanya sebagai pemodal saja dan tidak ikut mengelola perusahaan. Memang sungguh memprihatinkan pengalaman yang baru2 ini bagi investor saham, karena muncul kasus yang selama ini belum pernah terjadi.

Sekedar diketahui bahwa Investor saham biasanya mempunyai analisa2 sebelum memutuskan membeli saham tertentu, baik secara Fundamental dan Teknikal dalam memaksimalkan hasil yang ingin dicapai dan memperkecil resiko investasinya. Namun kejadian akhir2 ini harus menjadi suatu pertimbangan tersendiri yaitu "Manajerial" yaitu bagaimana perilaku manajemen dalam mengelola perusahaan. Sebab keasalahan yang dilakukan Manajemen akan mengakibatkan pula resiko bagi investor sebagai pemodal.

Terlepas dari masalah DGIK dan AISA nanti dinyatakan bersalah atau tidak di Pengadilan namun saat ini harga sahamnya di Bursa sudah "anjlok" dan tentu bagi investor yang sebelumnya sudah memiliki saham kedua emiten tersebut mengalami kerugian. Ini mencerminkan sensitifnya antara harga di Bursa dan informasi media yang ada.

Posisi investor sungguh dilematis di satu sisi diharapakan sebagai pemodal yang perannya amat penting untung perkembangan Pasar Modal karena dengan modal tersebut perusahaan bisa meningkatkan usahanya. Namun disisi lain harus menanggung resiko yang menimpa perusahaan atas apa yang dilakukan Manajemen Perusahaan. 

Selama ini memang belum ara regulasi yang secara khusus melindungi kepentingan investor bila terjadi resiko yang diakibatkan tindakan oleh manajemen perusahaan tersebut. Kalau saja ada manajemen yang nakal maka investor tidak bisa berbuat banyak. Suatu contoh yang terjadi atas beberapa saham yang sekarang didelisting atau dihentikan sementara perdagangannya oleh Bursa seperti saham KARK, INVS, DAVO, SIAP  maka berapa milyar atau bahkan triyun Rupah kerugian investor dan  mungkin saja ini permainan pihak2 tertentu yang belum terungkap secara transapran.

Sepertinya sudah saatnya ada regulasi untuk melindungi investor dalam partisipasinya sebagai pemodal karena tanpa peran investor tentu Pasar Modal tidak bisa berkembang karena modal dari investorlah yang menjadi kunci utama perkembangan Perusahaan yang Go Publik. Janganlah investor hanya diperas dananya dengan tindakan2 yang julik dan lihai dengan berbagai modusnya.

Kepada Aparat Hukum selayaknya selain memang harus tegas namun juga diperlukan kehati2an dalam menangani perkara yang menyangkut Perusahaan yang Go Publik karena dampaknya sangat luas. Dan bisa memilah mana yang kesalahan manajemen dan perusahaan janganlah investor yang sudah dengan niat yang baik berinvestasi ini harus menanggung resiko kerugian karena ulah pihak2 tertentu.

Apalagi kalau Pasar Modal ini sudah dicampur adukkan dengan Politik atau kepentingan lain maka bisa hilang kepercayaan investor. Untuk itulah semoga Aparat Hukum harus profesional dan jangan mau dipengaruhi pihak2 tertentu untuk ditarik keranah politik atau persaingan bisnis.

Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia juga harus lebih berperan aktif, tegas tetapi  bijak dalam melindungi kepentingan investor jangan investor menjadi korban dan bahkan "dikerjain" pihak2 tertentu. Sekalipun investor sudah paham dengan resiko yang dihadapi dalam berinvestasi tetapi resiko dari faktor lain tentu akan menyakitkan dan tidak bisa ditolerir.

Bagi anggota Komunitas Investa / Investa Community selamat beraktifitas dengan tetap cerdas hati2 sabar dan disiplin dalam berinvestasi.

Untuk yang pingin bergabung di Komunitas Investa silahkan invite ke no WA.087700085344 dengan  syarat2 tertentu yang kami tentukan.

Salam,

Hari Prabowo ( INVESTA )
WA.087700085334

Anda paling tertarik pada artikel apa ?

Powered by Blogger.

Investa Community

Investa Community

WhatsApp grup Community

Investa merchandise

Supported by

Supported by