26 Jun 2017


19 Jun 2017

Para anggota grup Investa, para nasabah BNI Securities Semarang dan para pembaca yang budiman,

Pekan ini merupakan pekan terakhir sebelum liburan panjang Hari Raya IDUL FITRI 1438 H, dan hanya ada 4 hari perdagangan Bursa yaitu 19 sd 22 Juni 2017. Bagimana Prediksi Market?  Inilah perkiraan saya:

1. Ada perbedaan antara Pasar Modal dengan Pasar Tradisional menjelang libur panjang Hari Raya, dimana pasar tradisional dan mall akan terjadi peningkatan transaksi perdangan dan harga2 cenderung naik. Namun Pasar Modal kebalikannya transaksi relatif menurun demikian pula harga saham juga cenderung turun.

2. Psikologi pelaku pasar di Bursa menjelang libur panjang menunjukkan ritmen keinginan trading berkurang dan lebih konsentrasi untuk liburan.

3. Para trader yang biasa memanfaatkan "fasilitas margin" dalam tradingnya akan mengurangi nilai portofolionya untuk menghindari bunga margin yang tidak efektif selama liburan.

4. Para investor juga menghindari ketidak pastian selama libur panjang dari sudut resiko politik dan keamanan.

5. Pertimbangan tersebut yang mengakibatkan kemungkinan IHSG hari ini tgl.19 Juni 2017 masih akan mengalami tekanan jual dari para traders yang menggunakan margin trading karena penjualan hari ini masih akan setlemen pembayaran tgl.22 Juni (sebelum libur).

6. Sehingga penurunan ini sifatnya hanya sementara, untuk itu buat trader yang tidak menggunakan margin silahkan mulai masuk kepasar nanti sore hari atau besuk pagi karena ini sebagai peluang mencari saham dengan harga discount.

7. Pilihan saham pada saham2 yang likuiditasnya cukup tinggi dan mudah mantul misalnya untuk kategori BC TLKM, ASII, BBRI, BBCA, SMGR. Sedangkan saham menengah kebawah MCOR, SOCI, BVIC, KBLI, BULL, JPFA.

8. Biasanya setelah libur panjang IHSG dan harga saham akan cenderung naik kembali karena adanya semangat baru masuk ke pasar.

Demikian kira2 prediksi market menjelang libur panjang, sederhana tapi didasrakan pengalaman saya selama lebih 25 tahun melihat bursa.


Notes: buat investor yang ingin bergabung di grup Komunitas Investa bisa daftar ke no WA 087700085334. dengan menyebutkan nama, umur dan kotanya.
Kami telah menyiapkan Grup WA baru dengan nama KOMUNITAS INVESTA III bagi anggota baru.

Salam,

Hari Prabowo ( INVESTA )
WA.087700085334

18 Jun 2017


Alhamdulliah terlah berhasil dilaksanakan kuliah via WA tentang dasar dasar teknikal analisis dengan materi Candlestick, dengan peserta sebagai berikut :
PESERTA kuliah WA basic Technical Analisis - CANDLESTICK
1. Eko Yb, Smg
2. Adi Tarwoco, Smg
3. Linda , Bdg
4. Handi, Medan5. Ike, Smg
6. I Gustu Putu Wati, Smg
7. Doni permana, kepri
8. Lilis Jakarta.
9. Muslik jkt
10. Hildasari (Palembang
11. Ratna Dewi - bdg
12. Wuri Puji Handayani, Pati
13. Kian Oen, Jkt
14. Ferdinand,  Tng
15. Lilly, Bandung

12 Jun 2017

 

1. Puri, Jakarta
2. Henri T Jakarta
3. Vivi Jakarta
4. Agus Hermanto, Smg
5. Alimi
6. Tan Stephen, sby
7. Dona, jkt
8. Sofyan , Smg
9. Hendra - JKT
10.ReZa, jkt
11.Purtanto, TGL
12. Elsa, jkt ,
13. Andrian, jkt
14.iin banda aceh
15. Johanes, Tangerang
16. Lanni, Sbybu
17.lina sby
18.lusy sby
19. Manalu, Jkt
20. Syahirul,smg
21. Wison, Smg
22. Edhi, Surabaya
23. Agnes bdg
24. Togar, jkt
25. Sinta, Aust
26. Hardy, Tmg
27. Bu Maria, Mglng
28. Calvin, Jkt
29. Bu Silvie,  smg
30. Fadli, smg

Para anggota grup Investa, para nasabah BNI Securities Semarang dan para pembaca yang budiman,

Kali ini saya ingin mencoba menganalisa saham MCOR sebagai bank hasil Merger Bank Windu dan Bank Antar Daerah dengan kapitalisasi sekitar Rp.4.4 Trilyun,  total asset Rp.13,12 Trilyun dan equity Rp.2,43 Trilyun  sedangkan jumlah jumlah sahamnya 16,4 milyar lembar.
Pemegang saham mayoritas adalah China Construction Bank sebesar 60 %, UBS AG Singapura 25,34 % sedangkan Public "cuma" 14,66 %.

Pada kuartal pertama th.2017 ini EPS nya Rp.4,- Operating Profit Rp.35 milyar dan Net Profit Rp.25,4 milyar. PER 45 x PBVR 1,8 x ROE 4,19% dan ROE 0,77%.

Hasil RUPST untk tahun buku yang berakhir 31 Deesmber 2016 emiten ini tidak membagikan deviden lantaran Laba yang  diperoleh akan digunakan untuk memperkuat permodalan agar bisa naik ke BUKU III.
Sementara ini Emiten ini juga gencar melakukan pembiayaan2 Infrastruktur dan properti dalam negeri serta mengincar ke 10 perusahaan pengembang terbesar termasuk Ciputra, Intiland, Alam sutera, Agung Podomoro dan Agung sedayu.

Untuk mendukung operasionalnya MCOR juga gencar membuka kantor2 cabang di daerah serta kantor Pusat BCC juga siap menucurkan penambahan modal jika diperlukan selain dengan skema Right Issue.

Menurut saya ini Bank papan bawah yang punya Propek kedepan sangat bagus sejalan dengan banyaknya kersa sama antara RRC dan Indonesia terutama pembangunan insfrasruktur yang memang menjadi fokus Pemerintah saat ini.

Harga saham ini terakhir 9 Juni 2017 di Rp.270,- per saham dimana dalam tahu ini secara YTD sejak awal tahun telah tumbuh 82% sedangkan setahun terakhir tumbuh 63%. Harga terendah tahun ini Rp.145,- dan tertinggi Rp.356,-. 

Analisa saya dengan data tersebut harga saham MCOR masih akan tumbuh signifikan dengan taget terendah dalam tahun ini Rp.300,- sd Rp.400,-. Untuk tahun 2018 apabila emiten ini bisa naik tingkat ke BUKU III sesuai rencana maka harga Rp.500,- bukan sesuatu yang mustahil.

Buat yang merencanakan investasi jangka panjang silahkan MCOR menjadi salah satu saham yang bisa dipertimbangkan. Dan buat yang senang trading pendek harga Rp.270 saat ini bisa dibuat target beli dan jual Rp.286.

Notes: buat investor yang ingin bergabung di grup Komunitas Investa bisa daftar ke no WA 087700085334. dengan menyebutkan nama, umur dan kotanya.
Kami telah menyiapkan Grup WA baru dengan nama KOMUNITAS INVESTA III bagi anggota baru.

Salam,

Hari Prabowo ( INVESTA )
WA.087700085334

6 Jun 2017


Setelah senyap selama lima tahun, kini wacana redenominasi rupiah kembali menghangat. Bank Indonesia ternyata masih menyimpan gagasan yang hampir sewindu itu di dalam freezer, dan kini memanggangnya kembali dalam oven untuk sekali lagi dihidangkan menjadi menu publik. Beberapa saat lalu Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa kini saat yang tepat untuk merealisasikan gagasan redenominasi, mengingat kondisi makro yang bagus, pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan inflasi yang rendah. 

Beliau mengatakan bahwa sudah ada rancangan undang-undang redenominasi mata uang ke dalam Prolegnas 2017. Motif yang mengemuka di balik dikeluarkannya kembali gagasan itu dari laci, karena konon redenominasi akan mengangkat citra Rupiah dan dengan demikian “gengsi” negara. Benarkah demikian? Is it all worth it?

Saya berada di barisan yang hingga saat ini meyakini bahwa redenominasi adalah perbuatan sia sia. Pertama mudharatnya jauh lebih banyak ketimbang manfaatnya. Kedua, redenominasi tidak lebih dari polesan yang akan segera luntur bila tidak didukung oleh perbaikan ekonomi fundamental. Lalu kalau betul fundemental ekonomi Indonesia baik dan kuat, pelan dan pasti rupiah akan menguat. Kenapa kita menghabiskan energi untuk hal yang sia sia?

Lima tahun lalu, ketika wacana redenominasi berhembus kencang, saya menulis sebuah artikel di Kolom ini, dan merancang seminar nasional di Kampus Kwik Kian Gie School of Business. Sejak itu, wacana itu melemah dan hilang. Dengan menghangatnya kembali wacana redenominasi, saat ini,  saya juga ingin menghangatkan kembali beberapa argumen yang dulu pernah saya kemukakan.

Sekedar ilustrasi awal, saya ingin mengingatkan tentang dua kasus redenominasi yang banyak ditulis sebagai paling sukses. Pada Januari 2005 Turki menggantikan Lira lama dengan Lira baru dengan menghapus enam angka nol, artinya satu juta Lira lama menjadi satu Lira baru. Pada Juli, tahun yang sama, Rumania menghapus empat angka nol dalam mata uangnya. Hasil konkrit? Pakar sepakat bahwa Redenominasi mengandung pengakuan bahwa ada kebijakan ekonomi yang salah di masa lalu, (yang diharapkan bisa berlalu)“....redenomination would send a signal to citizens, as well as to the international community, that economic policymistakes were in the past (Layna Mosley, 2005)


Zimbabwe, yang pernah menerbitkan uang kertas dengan denominasi satu miliar, berusaha keras untuk mengembalikan citranya melalui redenominasi yang dilakukan berulang ulang. Dan gagal seperti dongeng Sysphus. Cohen (2004)  menggambarkannya dengan dramatis: “Currency redenomination also can be a means by which governments attempt to reassert monetary sovereignty. If citizens lose confidencein the national currency, they may begin to use foreign currencies, particularly those with greater prestige. This may be both a psychological and an economic blow to the government: with widespread foreign currency substitution (or, more extremely, full dollarization), the central bank no longer controlsthe money supply, rendering itunable to provide lender of lastresort functions” 

Dalam benak saya, manfaat yang akan diperoleh dari redenominasi tidak lebih dari manfaat administratif yang sangat minor dan trivial, seperti: dompet orang Indonesia akan lebih tipis, (joke: para koruptor tak perlu repot menggunakan uang dolar dalam tas sogokan), kalkulasi transaksi dalam rupiah akan lebih sederhana, daftar tarif di tempat tempat belanja seperti mal, restoran dan hotel menjadi lebih pendek dan penyajian laporan keuangan menghemat spasi sekian digit. Daftar manfaat semacam itu nilainya jauh lebih kecil ketimbang biaya pencetakan uang baru, biaya sosialisasi dan biaya legislasi. Manfaat minor itupun hanya akan bersifat sementara, karena rupiah, seperti takdir yang ditunjukkannya sepanjang sejarah, akan kembali layu pada periode berikutnya.

Misalkan redenominasi dilakukan dengan menghapus 3 nol di lembaran Rupiah. Artinya Rp 1.000 Rupiah lama akan ditukar dengan Rp 1 rupiah baru. Untuk melukiskan persoalan, yang akan timbul, saya ingin mengambil beberapa contoh imajiner, di sektor keuangan, yang pasti akan terjadi  ketika redenominasi itu dilaksanakan:

1.      Saham saham dengan harga Rp 50 di BEI kini harus ditulis dengan Rp 0,05. Lebih mudah? Belum lagi fraksi harga Rp 1 harus ditulis dengan Rp 0,001

2.      Semua Anggaran Dasar Perusahaan Tbk harus diubah.

3.      Kompatabilitas laporan laporan yang menyangkut nilai rupiah dengan laporan periode sebelumnya menjadi rumit. Ini baru menyangkut penyajian, analisis tentu akan lebih rumit.

4.      Kontrak kontrak bisnis yang masih berjalan yang dinyatakan dalam nilai rupiah harus direview ulang

5.      Penyesuaian dalam transaksi on line perbankan akan menyulitkan dan perbaikannya membutuhkan waktu cukup lama dan mahal.

6.      Pergantian uang kertas dan koin lama dengan uang kertas dan koin baru akan berjalan bertahun tahun karena pengeluaran uang baru harus diikuti dengan penarikan uang lama agar tidak terjadi inflasi. Selama periode itu, transaksi akan menggunakan dua satuan mata uang, dan tiap orang, boleh jadi, harus memiliki dua dompet.

7.      Para pedagang selama masa transisi harus memasang double price tags. Di Pasar modern mungkin bisa dilakukan. Di pasar becek?

8.      Sosialisasi juga harus intens kepada rekanan bisnis di luar negeri agar transaksi lintas Negara tidak terhambat.

Apa yang sebenarnya ingin kita capai? Agar rupiah terlihat gagah dan merasa setara dengan ekonomi regional yang lebih maju? Bagi saya, ini argument yang implausible. Di luar tujuan penyatuan mata uang dalam kasus zona Euro, redenominasi dilakukan dengan hanya satu alasan: inflasi atau hiperinflasi, seperti yang dilakukan Indonesia pada tahun 1965, Peru tahun 1994, Turki tahun 2005 dan Zimbabwe beberapa kali terakhir tahun 2009.Empiris membuktikan bahwa banyak tindakan redenominasi, kemudian diikuiti oleh inflasi yang tinggi lagi. Kita tentu masih bisa melihat kilas balik betapa tingginya inflasi Indonesia di tahun 1965 dan 1966.

Jelas redenominasi tidak indentik dengan penguatan Rupiah. Dalam benak saya kunci penguatan Rupiah nya hanya satu: Perbaikan fundamental ekonomi. Perbaikan infrastruktur, peningkatan penguasaan teknologi, Perbaikan kualitas sumber daya manusia dan bersihkan ekonomi dari kebocoran dan inefisiensi. Daya saing pasti meningkat!. Peningkatan daya saing akan meningkatkan pangsa pasar kita dalam transaksi internasional. Cadangan devisa akan naik dan rupiah tentu menguat, walau tentu tidak terjadi hanya dalam satu malam.....


(Telah diterbitkan di Kolom INVESTOR DAILY senin, 5 Juni 2017)

Hasan Zein Mahmud
Investor saham, Instruktur pada LP3M INVESTA

Para anggota grup Investa, para nasabah BNI Securities Semarang dan para pembaca yang budiman,

Sebagaimana kita ketahui bahwa pergerakkan harga saham ini dipengaruhi beberapa faktor seperti misalnya pengaruh Teknikal, Fundamental, Aksi Korporasi, Bandarmologi dan adanya informasi terbaru yang berkaitan dengan emitennya. Namun ada pengaruh lain yang tidak kalah pentingnya yaitu Pengaruh Transaksi MARGIN dan SHORT SELLING.

Margin adalah suatu pembiayaan pembelian efek yang dibeayai oleh Perusahaan Sekuritas sedangkan Short Selling adalah penjualan efek yang pada saat terjadinya penjualan si penjual sebetulnya "belum" mempunyai efek tersebut.

Sementara ini nampaknya investor perorangan lebih memahami skema transaksi Margin yang lebih simple dan sering dipakai oleh Perusahaan Sekuritas sebagai "Fasilitas"  untuk pemanis nasabahnya. Walaupun hal ini juga sering jadi masalah timbulnya resiko yang lebih besar terutama kalau harga saham sedang mengalami penurunan tajam.

Investor yang menggunakan fasilitras Margin berarti punya modal transaksi paling tidak 2 atau 3 kali modal sendiri, dengan demikian investor akan berharap saham yang DIBELI akan NAIK sehingga akan menghasilkan Gain yang 2 atau 3 kali lipat bila dibandingkan jika investor tersebut hanya menggunakan modal senndiri.

Sebaliknya Investor yang melakukan SHORT SELLING akan melakukan PENJUALAN dulu dengan cara "meminjam" saham dari KPEI. Investor ini akan berharap kedepan saham yang telah dijual tersebut harganya akan TURUN dibandingkan saat investor ybs menjualnya. Dengan demikian investor akan mendapatkan MEMBELI di harga yang lebih murah dan ujungnya akan mendapatkan Gain juga dari selisih jual dan belinya juga.

Sehingga prinsipnya investor margin akan berharap harga saham akan NAIK sedangkan investor shor selling berharap hargsa saham akan TURUN.
Bagaimana hal tersebut bisa menggerakkan harga saham di pasar?? Mungkin bisa saya kasih gambarkan misalnya seorang investor melakukan SHORT SELLING maka dia akan terikat jangka waktu harus MENGEMBALIKAN saham yang semula "dipinjam", Maka ketika jangka waktu tersebut sudah jatuh tempo dia akan MEMBELI saham dipasar BERAPAPUN  harganya. Demikian pula pengguna MARGIN akan menjual sahamnya ketika jatuh tempo atau bahkan ketika jaminan sahamnya mengalami penurunan harga.

Sehingga prinsipnya kedua "fasilitas" Margin dan Short Selling bisa mempengaruhi harga saham yang ada di pasar. Maka sebagai investor kita juga wajib memahami hal ini bahwa harga saham memang banyak faktor2 yang mempengaruhi tidak sekedar Fundamental atau Teknikal saja sebagai bahan kajian analisa.

Perlu diketahui bahwa saat ini Peraturan tentang MARGIN dan SHORT SELLING dengan cara MEMINJAM EFEK itu sudah aturannya, hanya saja sayang sekali Perusahaan sekuritas belum banyak melakukan sosialisasi hal ini kepada nasabahnya sehingga belum yang belum paham teknis dan prosedurnya.

Moga2 ada saatnya Investa untuk mengenalkan hal tersebut dalam kesempatan pelatihan yang akan datang.

Notes: buat investor yang ingin bergabung di grup Komunitas Investa bisa daftar ke no WA 087700085334. dengan menyebutkan nama, umur dan kotanya.
Kami telah menyiapkan Grup WA baru dengan nama KOMUNITAS INVESTA III bagi anggota baru.

Salam,

Hari Prabowo ( INVESTA )
WA.087700085334

30 May 2017


Ternyata tak semua orang menyukai banyak hari libur. Sebagian besar hari libur di negara negara Asia berkaitan dengan hari besar keagamaan, lalu disusul oleh peristiwa kenegaraan dan politik. Yang dimaksud hari libur dalam ocehan ringan ini adalah hari libur di luar libur akhir pekan (Sabtu dan Minggu). 

Oleh sebab itu semakin banyak jumlah agama yang diakui negara, akan semakin banyak pula jumlah libur nasionalnya. Konon, negara dengan hari libur terbanyak dimiliki olerh Sri Lanka. Hari libur di Sri Lanka sebagian besar terkait dengan agama Budha. Poya Day adalah hari libur setiap bulan ketika rembulan mencapai purnama penuh. Di samping itu, seperti Indonesia, liburan dalam rangka menghormati pemeluk agama Hindu, Islam, Ktristen dan Katholik.

Negara berikutnya adalah India, walaupun sebagian hari libur itu bersifat lokal di negara bagian. Sebut misalnya Diwali, Maha Shivratri, Guru Nanak Jayanti, Vaisakhi, Eid ul-Fitr, Muharram, and Christmas. Hari kelahiran Mahatma Gandhi, 2 Oktober, merupakan hari libur nasional. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa mengadopsi kebijakan kalau hari libur jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, maka mereka akan meliburkan hari kerja berikutnya.

Indonesia tidak memiliki kebijakan seperti Amerika Serikat dan Eropa. Oleh sebab itu para pekerja merasa getun setiap hari libur jatuh bersamaan pada hari Sabtu atau Minggu. Tapi Indonesia memiliki kebijakan “cuti bersama” yang awalnya ditujukan bagi para aparatur sipil negara, tapi ternyata juga diikuti oleh organisasi swasta. Selain itu ada kebijakan “hari libur politik”, semisal pemilu legislatif dan pemilu Presiden yang menjadi libur nasional dan pemilukada yang pada sebagian daerah menjadi hari libur regional.

Saya tidak tahu Indonesia berada di peringkat berapa dalam jumlah hari libur. Kalau cuti bersama dan libur politik masuk hitungan, sangat boleh jadi Indonesia akan menggantikan posisi Sri Lanka sebagai negara dengan hari libur paling banyak. Bulan bulan April, Mei dan Juni, tahun ini, merupakan bulan bulan dengan libur paling banyak. Di Bulan April lalu ada dua long week ends, plus pemilihan Gubernur di Jakarta, Bulan Mei ada tiga hari libur, dan Juni ada dua hari libur ditambah dengan cuti bersama paling panjang.

Nah, para pialang di Bursa Efek Indonesia berada di posisi vulnerable terhadap hari libur. Jumlah hari liburan yang banyak itu menggigit mereka dari dua arah, pertama jumlah hari perdagangan menciut, dan nilai transaksi reguler pun mengecil. Maklumlah transaksi besar dilakukan oelh investor instirusi dan inevestor perorangan tajir, yang umumnya mengurangi aktivitas pada hari hari menjelang dan sesudah long week ends. Yang juga mengeluh adalah para traders, yang menangguk cuan dari transaksi intra-day. Hari libur indentik dengan berhenti perburuan cuan harian.

Hari raya Idul Fitri boleh jadi merupakan liburan paling meriah di Indonesia, mengingat penduduk muslim yang sangat besar. Dari kacamata pengeluaran, peningkatan belanja rumah tangga sudah dimulai menjelang datangnya bulan puasa. Agak ironi memang! Ketika pada bulan suci kita dihimbau untuk menahan diri – termasuk menahan syahwat konsumerisme – masyarakat justru lebih getol berbelanja, termasuk bila perlu berhutang dan menggadaikan barang. Perum Pegadaian mencatat kenaikan omset 10 – 15% setiap kali datang bulan puasa.

Mari kita lihat beberapa indikator. Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan uang beredar rata rata selama bulan puasa naik 15% dalam periode 10 tahun terkahir. Penelitian Tirto.id, yang dilakukan di Jakarta tahun 2016 menyimpulkan antara lain:  “mayoritas kaum muda Jakarta mengeluarkan uang tambahan sebesar Rp 1 juta – Rp 3 juta selama Ramadan dan mereka mengalokasikasi 10-20 % dari pendapatan mereka untuk buka bersama”. BPS merupakan saksi tertulis bahwa inflasi selalu meningkat di bulan Ramadhan.    

Fenomena Ramadhan dimanfaatkan dengan baik, sebagai peluang, oleh pelaku bisnis. Sektor konsumsi dan ritel mempersdiapkan diri sebaik baik dan seindah indahnya menjelang Ramadhan. Sektor infrastruktur berpacu siang dan malam menyongsong ritual mudik tahunan. Sektor transportasi, darat laut udara, nyaris tak pernah mampu mengejar peningkatan permintaan menjelang pesta lebaran. Periode dua minggu yang sangat populer dengan H -7 sampai H + 7 merupakan puncak mobilisasi manusia Indonesia.

Sekedar ilustrasi saya mengamati selintas beberapa emiten sektor ritel, PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS),  PT. Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) dan PT. Mitra AdiperkasaTbk (MAPI). Persaingan di sektor ini memang semakin tajam. Karena itu mereka melakukan dua orientasi bisnis. Pertama mempertajam segmentasi pelanggan dan kedua, selain memacu laju ekspansi gerai, terutama di Jawa, mereka kembali memberi titik tekan pada peningkatan penjualan pada gerai yang ada (same store sales growth, SSSG). Pengamatan selintas dalam periode yang cukup panjang menunjukkan bahwa penjualan RALS bertumpu pada bulan puasa – lebaran, sermentara MAPI penjualan lebih meningkat menelang Natal dan tahun baru. ACES relatif lebih stabil walaupun Natal dan tahun baru mencatat rata rata penjualan yang lebih tinggi. Gejala ini sekaligus menunjukkan segmentasi pelanggan yang berbeda yang mereka bidik.

MAPI misalnya, untuk tahun 2017 ini, menganggarkan capex sebesar Rp 750 miliar untuk membuka 200 gerai baru dan memperluas toko sebanyak 70.000 m2 guna meraih target penjualan sebesar Rp 15,9 Triliun kenaikan, 13% dari tahun lalu, termasuk konstribusi SSSG sebesar 5%. Puasa dan lebaran juga menjadi perhatian MAPI dengan memasang target perolehan pendapatan 50% pada semester pertama, karena puasa dan lebaran tahun ini jatuh pada semester pertama.

ACES memiliki strategi mendekati hunian baru. Maklum kinerja ACES berkorelasi  sangat erat dengan kebangkitan kembali sektor properti. Perusahaan ini menganggarkan capex  Rp 300 miliar untuk membuka 15 gerai baru, yang bersmaan dengan perluasan gerai yang sudah ada akan menambah luas toko sebesar 26.000 m2. Dengan ekspansi itu, ACES menargetkan peningkatan pendapatan sebesar 7% tahun ini mencapai Rp 5,41 triliun, termasuk sumbangan SSSG sebesar 3%.

Bagi RALS bulan puasa dan lebaran merupakan periode yang sangat penting. Momen puasa dan lebaran menyumbang rata rata 42% dari pendapatan tahunan RALS. Selama dua bulan pertama 2017, penjualan ritel menurun cukup tajam, 20%. Walaupun penjualan Maret mulai naik, namun penjualan total 1Q17 bertumbuh negatif. Menjelang puasa, penjualan April mulai meningkat tipis sebesar 0,2% YoY. Begitu pentingnya saat puasa dan lebaran bagi RALS, sehingga kenaikan penjualan selama puasa dan lebaran, bila dibandingkan dengan penjualan puasa dan lebaran tahun sebelumnya, dapat menjadi indikator apakah penjualan tahun berjalan akan meningkat atau menurun.

Tahun ini RALS membidik pertumbuhan pendapatan 8% untuk meraih Rp 6,37 triliun. Untuk mencapai target tersebut, RALS menganggarkan capex Rp 400 miliar dengan menambah gerai baru. Sampai April tahun ini RALS telah membuka 4 gerai baru dan menutup satu gerai lama atas pertimbangan efisiensi. Yang menonjol pada RALS adalah penerapan konsep SPAR dengan memperluas toko, mengubuah product mix dengan memasukkan lebih banyak pakaian dan asesoris, dan memperbaiki strategi marketing. Dengan konsep baru itu, perusahaan menargetkan SSSG yang lebih tinggi....

(Telah dipublikasi di Tabloid Investor Daily 30 Mei 2017)

Hasan Zein Mahmud
Investor saham, instruktur pada LP3M INVESTA

29 May 2017

Para anggota grup Investa, para nasabah BNI Sekuritas Semarang dan para pembaca yang budiman,

"Tebakkan" saya bahwa IHSG akhir pekan lalu sesuai toleransi karena IHSG ditutup 5716 artinya tidak lebih 5730 (prediksi 5670 sd 5730). Dan dari 5 saham yang saya perhatikan pun 3 diantaranya mengalami kenaikan yaitu SMDR TPIA dan GREN sedangkan 2 saham mengalami penurunan yaitu MEDC dan BVIC.

Saya tetap konsisten untuk mencermati 2 saham yang belum naik ini, apakah saya salah prediksi ?? bisa saja terjadi karena di pasar ini tidak mudah menebak dengan tepat semua saham. Namun saya pun bukan tanpa alasan memilih MEDC dan BVIC karena beberapa alasan :

1. MEDC pada Lap Keuangan akhir 2017 menunjukkan kinerja yang menawan dari sisi PER 3,7x, Net Profit Margin (NPM) 30,77%, Return On Equity (ROE) 20,74% dan PBV 0,78x. Emiten ini juga merencanakan Stock Split 1 : 4 serta rencana HMETD setelah disetujui dalam RUPSLB Juni mendatang. Ini kombinasi suatu kinerja dan rencana Aksi Korporasi yang positif menurut saya positif, shingga saya tetap merekomen saham MEDC (Buy On Weakness) beli jika harga terkoreksi karena berpotensi naik kembali. Prediksi saya harga MEDC dikisaran 3000 sd 3200.

2. BVIC meskipun Jum'at kemarin minus 7% ini saya anggapa koreksi yang wajar karena sebelumnya harga saham BVIC (Bank Victoria) telah naik tertinggi 328 dan menjadikan harga saham ini menguat 172% selama tahun 2017 ini YTD. 
Kinerja BVIC juga tumbuh bagus. Manajemen juga membidik LABA th,2017 akan naik 40% yang tentu ini pertumbuhan yang spektakuler jika terealisir.
Berita adanya investor asing berasal dari Jerman yaitu DEG yang akan meningkatkan kepemilikannya di BVIC juga memicu harga saham ini melaju kencang. Sehingga koreksi kemarin masih wajar saja dan Prediksi saya harga BVIC kedepan bisa mencapai 350 sd 400 per saham.

Penurunan kedua saham MEDC dan BVIC saya anggap peluang untuk koleksi karena dari sisi kinerja dan prospek kedua saham tersebut cukup bagus. Buat yang tipe investor bila pilihan emitennya sudah benar masalah harga itu hanya masalah waktu yang membuktikan karena secara teoritis harga saham akan menyesuaikan fundamentalnya.
Bagi yang tipe trader maka peluang penurunan harga saham juga bisa digunakan sebagai peluang trading jangka pendek.

Pekan ini agenda kami INVESTA sedang melakukan UJI COBA PELATIHAN LIVE TRADING SECARA ONLINE, bila Uji Coba ini kami nilai efektif maka kami akan menyelenggarakan Pelatihan Live Trading secara Online terutama untuk yang bertempat jauh sehingga tetap bisa ikut Pelatihan dari INVESTA.

Notes: buat investor yang ingin bergabung di grup Komunitas Investa bisa daftar ke no WA 087700085334. dengan menyebutkan nama, umur dan kotanya.
Kami telah menyiapkan Grup WA baru dengan nama KOMUNITAS INVESTA III bagi anggota baru.

Salam,

Hari Prabowo ( INVESTA )
WA.087700085334

Anda paling tertarik pada artikel apa ?

Powered by Blogger.

.

.

Investa Community

Investa Community

WhatsApp grup Community

Investa merchandise

Supported by

Supported by