10 Nov 2015

Para pembaca dan Nasabah BNI Securities Semarang yang budiman,

Ternyata Federal Reserve kembali menjadi konsen pelaku pasar kemarin, kekhawatiran FED akan menaikkan suku bunga di bulan Desember ini telah mengganjal laju IHSG sehingga kemarin IHSG rontok 1,47% diposisi 4499.
Pengumuman data tenaga kerja di AS yang menunjukkan adanya penambahan tenaga kerja sebanyak 271.000 pekerja  mengindentifikasikan bahwa perekonomian di AS semakin membaik. Maka dengan kondisi ekonomi yang lebih baik memungkinkan FED menaikkan suku bunganya.

Dari faktor internal juga mencatat hal2 yang negatif seperti penurunan Cadangan Devisa sebesar US$ 1 Miliar menjadi US$ 100 Miliar, Juga turunnya data GDP kuartal III yang 4,3% dibawah ekspektasi yang 4,7%, kembali melemahnya nilai Rupiah terhadap US$ menjadikan sentimen negatip yang ada saat ini yang akhirnya menjadi tekanan terhadap IHSG.

Pengaruh faktor makro ekonomi memang menjadi fokus utama dalam teori strategi investasi, karena baik buruknya perekonomian akan menjadi pertimbangan utama investor yang dilanjutkan ke pemilihan sektoral, fundamental dan teknikal analisis.
Sementara saat ini kondisi ekonomi memang sedang kondisi yang kurang bagus, sehingga pengaruh itu telah mengakibatkan kondisi pasar keuangan juga sulit diantisipasi.

Kalau saja boleh memilih tentu saya berpikir FED lebih cepat mengambil keputusan yang pasti termasuk menetapkan kenaikkan suku bunganya, karena dengan kepastian itu akan lebih baik pelaku pasar akan bisa membuat perencanaan dan perhitungan2 yang lebih pasti dari pada FED selalu mengambang sehingga menciptakan spekulasi yang berkepanjangan. 
Sekalipun di awal kenaikkan suku bunga mungkin akan terjadi yang pahit bagi negara2 berkembang tapi itu untuk sementara dan selenjutnya bisa ada penyesuaian.

Jika FED menaikkan suku bunganya maka kemungkinan yang terjadi adalah pelemahan nilai rupiah terhadap US$, karena kekhawatiran larinya dana asing keluar. Namun bila kondisi iklim investasi di Indonesia bisa diperbaiki lebih baik saya kira juga bisa menahan pelarian modal tersebut dan bahkan bisa kembali menarik lebih banyak dana asing. makanya diperlukan kebijakan2 dari pemerintah yang lebih akurat dan menarik.

Sekalipun pilihan saham saat ini mungkin lebih sulit tapi peluang selalu ada, karena itu saya mencoba memilih beberapa saham yang ketergantungan terhadap US$ tidak banyak, pasar dalam negeri lebih tinggi dan masih bisa mencetak laba serta mempunyai prospek kedepan yang lebih baik terutama jika ekonomi kembali normal serta harga sahamnya yang masih relatif murah.
Pilihan  saya pribadi saat ini ini KIJA, SMGR, KAEF, UNVR, BJTM, BJBR, CTRA, ELSA. dengan strategi BOW (artinya beli pada saat harga turun).
Perkiraan IHSG di level 4440 sd 4560.

Salam,

INVESTA
Pin, 2b7dd5ee (wajib ketik "salam investa" setelah invite dan terkonfirmasi)

0 komentar:

Post a Comment

Mohon menulis komentar dengan bahasa yang baik tidak mengandung unsur sara, politik dan iklan.

Anda paling tertarik pada artikel apa ?

Flag Counter
Powered by Blogger.

.

.

.